Sabtu, 21 Juli 2012

Set It Free...

Free your heart with your own way..

Pagi ini...
Saya bebas..


Belakangan saya merasa terbelenggu rantai yang tak kasat mata. Diam saja, pergerakan saya jadi sangat terbatas. Berontak, malah menambah rasa sakitnya. Langkah saya jadi tak karuan arahnya. Miring ke kiri... Miring ke kanan.. Tak jarang saya jatuh tersungkur tanpa sebab. Seperti orang mabuk yang tak tahu jalan pulang. Tiap kali saya berhadapan dengan cermin, saya seperti tidak lagi mengenali pantulan wajah saya. Saya mulai tidak mengenali diri saya. Ada seseorang yang selalu berteriak menyuruh-nyuruh saya untuk berhenti bermain-main dan menyakiti diri sendiri. Anehnya, saya seperti mendadak buta dan tuli. Saya sampai tidak mengenali suara orang yang sibuk meneriaki saya itu.

Ternyata itu suara hati kecil saya...

Mungkin Tuhan tidak menyayangi saya seperti Dia menyayangi orang-orang saleh lainnya. Tapi yang saya rasakan, Tuhan tetap terus menyayangi dan menjaga saya.. Meskipun terkadang saya melupakan dan menjauh dari-Nya. Dia memberikan secangkir hangat ketenangan hati dan pikiran kepada saya, justru saat saya tengah asyik berjelaga dengan bayang-bayang samar yang tak jelas bentuknya. Saya meneguk isi cangkir itu, dan menyisakan sebagiannya untuk nanti.. Kalau-kalau saya membutuhkannya lagi.

Setelah meneguk setengah isi cangkir barulah saya tersadar. Perlahan akhirnya saya tersembuhkan dari kebutaan dan ketulian mendadak itu. Barulah saya melihat, ternyata Tuhan sudah menjejalkan banyak sekali senyum dan tawa di saku saya. Bukan jenis senyuman yang selama ini saya pakai.. Tapi jenis senyuman yang selama ini saya idam-idamkan. Termasuk jenis yang langka. Karena saat memakai senyum ini, kamu akan tersenyum sampai ke hatimu. Langka bukan? Kalau bukan langsung dari Dia, jenis senyum ini tidak diproduksi dimanapun. :)

Hal yang selama ini saya inginkan, bahkan saya butuhkan, seperti tidak akan pernah bisa saya raih. Dikarenakan kebutaan mendadak itu tadi. Sebabnya bayang-bayang samar yang selalu muncul didepan mata saya. Bayangan itulah yang membuat saya seperti mendadak buta dan tuli. Bayang-bayang yang selalu menampilkan keindahan pada permukaannya, membuat saya lupa diri dan lupa segalanya saat melihatnya. Tapi sekarang saya bisa melihatnya dengan baik, dan memperlakukannya dengan pantas. senyum lagi ah.. :)

Terima kasih Tuhan.. Akhirnya kini saya dapat berjalan tenang bahkan ceria, memakai senyuman langka yang Kau jejalkan dalam saku ini. Pagi ini Kau bahkan memberikan lagi sekeranjang penuh senyum dengan jenis yang sama. Entah bagaimana lagi saya berterima kasih pada-Mu atas pemberian-Mu pagi ini.. Seumur hidup pun saya berterima kasih tidak akan pernah cukup!!


Pagi ini saya terbebas..
Saat saya tersenyum, hati pun ikut tersenyum..
Saat saya tertawa, hati pun juga tertawa..
Rasanya seperti diberi lahan tambahan yang luasnya berhektar-hektar dalam hati saya. Apapun yang menunggu untuk masuk kedalamnya, masih memiliki tempat cukup luas, saya akan bisa menampungnya. Tapi rasanya juga seperti diberi perisai baru yang lebih kuat. Apapun yang menunggu untuk menghantam, saya akan siap menerjangnya.

Seperti menemukan kembali jalan untuk pulang ke rumah yang telah lama dirindukan. Dan pulangnya saya bukan karena apa-apa atau sesiapa.. Saya dapat menemukan jalan untuk pulang karena kasih sayang Tuhan kepada saya yang nista ini.

Saat ini ingin sekali rasanya bertemu dengan laut. Belakangan fokus saya hanya langit. Selalu memaksakan diri menengadahkan wajah memperhatikan pergerakan awan yang misterius. Tapi lama-lama saya kelelahan juga, jengah juga. Awan yang tadinya terasa misterius dengan segala pergerakannya yang tak menentu menjadi membosakan dan mengesalkan karena sifatnya yang no pattern, sulit dibaca. Mana lagi saya harus terus-terusan menengadahkan wajah ke langit hanya agar bisa bertatapan langsung. Saya seperti lupa keberadaan laut, yang selalu memanjakan saya dengan apa yang ada pada dirinya. Jika Tuhan berbaik hati kepada saya LAGI, dan membawa saya ke laut yang indah, hal yang ingin saya lakukan adalah tertawa lepas.. sekencang-kencangnya. Membagi kebahagiaan saya kepada riak ombak di permukaan laut dan awan-awan yang bergelung rapi di langit biru, kepada induk-induk burung camar yang tengah asyik mencari makan untuk anak-anaknya di sarang, kepada deru angin laut yang menyisir-nyisir rambut yang tergerai, kepada bunyi sirine dan klakson mobil yang terdengar sayup-sayup di kejauhan, kepada lembutnya pasir pantai yang menggelitik telapak kaki, kepada bau asin yang memanjakan hidung, kepada pepohonan..


Saya ingin mengajak hati-hati yang masih bermain dengan bayangannya, berputar-putar mengejar bayangannya sendiri, yang masih merasa seperti terbelenggu dengan sesuatu yang sepertinya tak bisa dilepaskan.. Bebaskanlah hatimu.. Lepaskan semua beban yang beratnya seperti memikul satu dunia di pundak lembut itu.. Serahkan sepenuhnya pada Tuhanmu. Dia Maha Perkasa. Bebanmu itu bila kau pikul sendiri akan menghancurkanmu. Beban seperti itu bukan apa-apa bagi-Nya. Dia akan membantumu, asal kau memintanya. Minta saja, jangan setengah-setengah. Dia lebih menyukai makhluk-Nya yang menunjukkan kelemahan hanya pada-Nya dan membutuhkan-Nya melebihi apapun juga. Mintalah dengan cara yang benar, dan mari kita sama-sama berjalan bergandengan ke arah gerbang yang sama. Saling berbagi senyum yang indah pemberian-Nya dan tertawa bersama. Bersama menertawakan kenaifan dan kecerobohan dibelakang kita.

Bebaskan hatimu sendiri. Dan kau akan mengerti, bahwa tak akan ada rasa sakit jika kau tak mengizinkan apapun menyakitimu. Tak akan ada yang bisa membelenggu dirimu kecuali dirimu sendiri..



NB : alhamdulillah, gak nyangka bisa posting lagi.. hihii ^_^V

Rabu, 18 Juli 2012

Surat Cinta

Someday I will fly with my own wings.. And hold you..

Teruntuk kawan lama..
Masih ingatkah kau saat pertama kita dipersatukan?
Masih ingatkah saat Tuhan memperkenalkanku padamu pertama kalinya?
Masih ingat bagaimana perasaanmu saat itu?
Karna memori masa itu diluar kuasaku..
Mungkin suatu saat nanti, pada masa-masa terakhir kita
Dia akan mengembalikannya padaku
Entah..

Kawan lamaku..
Sungguh aku ingin tahu, saat Dia menghadirkanku dalam hidupmu
Apa yang kau lakukan?
Tersenyumkah?
Menangiskah?
Gembirakah?
Terharukah?
Banyak sekali pertanyaan yang ingin ku sampaikan padamu..

Kawan lama..
Terasa lamakah bagimu perpisahan kita ini?
Karna bagiku sudah seabad lamanya aku menunggumu..
Menunggumu pulang ke hatiku

Aku tidak menyalahkan pilihanmu untuk pergi
Tidak lagi..
Tapi seharusnya kau memberi lebih besar kesempatan
Untuk persahabatan kita
Untukku..

Aku yakin tidak ada yang salah dengan pilihanmu
Hanya saja mungkin kau tidak melihat persahabatan kita sebagai pilihan saat itu..
Tapi aku juga yakin,
Dia tak mungkin salah telah memasangkan aku denganmu..
Aku yakin Dia memiliki tujuan indah untukku
Untuk kita..
Kalau tidak, tak mungkin Dia memasangkan jiwa kita..

Kawan lama..
Masih ingat dengan sahabatku yang satu lagi?
Sahabatku yang telah bersahabat lebih dulu denganmu
Sahabatku yang menggantikan posisimu untukku saat kau tak ada..
Sahabatku yang pernah menjadi alasan atas senyum dan tawamu
Sahabatku yang mungkin juga jadi alasanmu meninggalkanku

Sahabatku yang hingga akhir hayatnya memutuskan untuk tetap tinggal dihatiku
Sahabat itu telah tiada sekarang..
Dia lebih dulu mengistirahatkan raganya
Dan meninggalkan bongkahan cinta dan rindu dihatiku
Meninggalkan tanya yang menggunung di benakku
Tanya tentangmu..

Ribuan detik itu kulalui dengan merindukannya,
Berharap ketiadaannya selama ini hanya leluconnya untuk mengerjaiku..
Ribuan hari pun kulalui dengan selalu mempertanyakanmu,
Merindukanmu..
Kulalui tanpa mengeluh pada sesiapa
Kecuali Tuhanku..

Kawan lama..
Jika kepergianmu selama ini adalah untuk menggapai semua mimpimu
Aku disini selalu mendoakan segalanya untukmu
Mogalah Tuhan selalu menyayangimu
Memberikanmu bintang yang paling kau sukai
Tapi bila semua mimpimu telah kau genggam,
Sudikah kau kembali padaku?
Sudikah kembali merajut cinta kita yang terputus saat itu?
Sama-sama memekarkan kembali bunga yang sempat layu sebelum berkembang itu..

Jika kau lupa bagaimana caranya menyayangiku
Akan kutuntun tangan indahmu untuk membelai kepalaku..
Menggandeng tanganku..
Memberikan pundah lembutmu untuk sandaranku..
Jika kau tak tahu lagi bagaimana caranya mendapatkan cintaku
Akan kuajari kau untuk memelukku saat aku tengah lelah dan ingin menyembunyikan wajahku dari dunia..
Akan kuajari untuk menidurkan kepalaku diatas pangkuanmu..
Untuk membasuh airmataku..
Mengecup keningku dan tersenyum padaku dengan bibir indahmu..

Semua dapat kulakukan asalkan kau mau kembali padaku..
Apa kau suka bintang?
Akan kutunjukkan padamu ribuan bintang,
Akan kuberikan yang paling terang untukmu
Asal kau mau kembali ke pelukanku
Dan jadi sahabatku..

Jadilah sahabatku..
Aku yakin kau akan menyukaiku jika kau mengenalku lebih dalam
Jadilah sahabatku
Hingga ajal menjemput dan dunia kita pun terdiam


Ku harap Tuhan berkenan mempertemukan kita
Dan menyibakkan tirai yang menutupi semua
Sebelum semuanya terlambat dan percuma
Sebelum salah satu dari kita kembali pada-Nya..

Teruntuk kawan lama..
Dimanapun kau berada
Apapun yang tengah kau lakukan
Siapapun yang tengah kau cintai
Aku masih menunggumu
Aku akan tetap  menunggu
Hingga Tuhan menunjukkan bahwa aku tak perlu menunggu lagi..


Rabu, 27 Juni 2012

Kotak Mimpi



Memilihmu sebagai pribadi yang menarik itu sudah kulakukan sejak lama. Jauh sebelum kamu menyadari keberadaanku, jauh sebelum aku menemukan kunci emas yang tengah kugenggam ditanganku saat ini.


Itu dulu sekali.. Saat dirimu menjelma awan sehalus serat seringan bulu, yang kemudian menerobos masuk dan bersembunyi dibalik rongga berbentuk pipih diatas tulang rusukku.


Aku membiarkanmu masuk, bukan karna aku menginginkanmu berada didalamnya. Tapi karena membiarkanmu masuk itu seperti bernapas bagiku. Tak pernah menyadari melakukannya, tapi langsung bergantung padanya. Membiarkanmu masuk itu terjadi begitu saja.


Kemudian waktu yang bergulir disekitarku menyadarkan aku. Bahwa dongeng sebelum tidur tidak semestinya dijadikan mimpi. Dan mimpi tidak semestinya berlangsung lebih lama dari kenyataan. Mentari terbit dan realita pun datang.


Sesuatu tentang realita, bahwa ia tidak pernah seindah mimpi. Aku membuatkan sebuah kotak sederhana untuk menyimpan mimpi itu. Saat aku membuatnya aku tahu, ini akan menjadi kotak yang tidak akan pernah aku buka kembali setelah aku menguncinya nanti.


Kotak mimpi itu berakhir di sudut sebuah ruangan kosong.. Sengaja kusimpan disana karena sudut itu gelap. Takkan ada sesuatu pun yang menyadari keberadaannya. Kuncinya kutelan untuk memusnahkannya.



Sesuatu tentang waktu.. Bahwa ia selalu membuat kita menemukan. Menemukan sesuatu yang hilang misalnya. Seperti waktu membuatku menemukan dia. Tepat disaat-saat ku jadi serapuh daun kering yang tertiup angin kesana kemari di musim gugur.


Dia memang bukan sesuatu yang hilang. Tapi sesuatu yang telah lama kudambakan. Caranya masuk dalam hidupku sangat tidak biasa. Tanpa sadar dia sudah membangun rumah dihatiku. (HaHaHa...)


Kini rumah itu telah jadi istana. Yang kuncinya dari emas. Yang kini tengah kugenggam di tanganku. Tepat saat kamu muncul kembali dihadapanku. Aku tergeming.



Tak ada satu kutu busuk pun yang pernah berani mengingatkanku tentang kotak mimpi yang kusembunyikan di sudut ruang gelap itu. Tapi kamu muncul dihadapanku, berdiri dengan gagahnya. Dengan tampang seolah tak berdosa. Menunjuk tepat ke arah dimana kotak itu kusembunyikan. Sungguh lancang.


Semakin aku memalingkan wajah darimu, semakin kamu maju. Mendekat. Dan semakin dekat kita, kunci yang kutelan bulat-bulat dulu itu semakin meronta-ronta mau keluar.


Semakin kamu mendekatiku semakin sulit pula usahaku untuk tidak memuntahkan kunci itu. Aku bukannya tidak ingin mengeluarkan kuncinya. Aku hanya tidak ingin kotak itu berakhir kosong nantinya.


Ketahuilah, jika kumuntahkan lagi kunci itu, istana indah yang kuncinya dari emas yang tengah kugenggam ini akan runtuh tak bersisa...


Lagipula, jika kuberikan kuncinya lagi padamu, apa kamu bisa menjaganya? Jika aku mengeluarkan kunci kotak itu dan membukakannya untukmu, apa kamu bisa merawat apa yang ada didalamnya hingga ia tumbuh kembali?


Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan? Apa yang ingin kau dapatkan? Apa tujuanmu menginginkan kunci kotak yang tidak pernah kuniatkan untuk membukanya? Apa kau tidak bisa melihat usangnya? Kotak itu sudah terlalu lama berada disana.


Tak bisakah kau biarkan saja dia disana, jika yang hendak kau lakukan hanyalah merebut kuncinya dariku dan membukanya, lalu menghancurkan isi kotak itu dengan beranjak pergi..


Tak bisakah kau biarkan saja isi kotak itu membeku bersama kotak usangnya, jika yang kau inginkan hanyalah rasa puas telah berhasil membukanya?


Jika kamu benar menginginkan kotak usang itu dan yakin mampu menjaga dan merawat isi didalamnya dengan baik, tunjukkan padaku niat baikmu... Atau beranjak pergi saja dari sekarang bila toh nantinya kau berniat begitu...


Bagaimana lah pula aku bertanggung jawab pada dia yang telah membangunkanku sebuah istana berkunci emas? Bagaimana aku menjawabnya bila ia bertanya kenapa aku semudah itu menghancurkan istananya, hanya untuk sebuah kotak usang?


Bagaimana lah pula bila sesuatu membuatku menangis? Apa kau bersedia menjadi sapu tangan? Atau pelukan yang menguatkan?


Memilihmu sebagai figur yang kusukai semudah udara terperangkap dalam paru-paruku. Seperti halnya aku menyukai awan-awan yang bergelung malas di bentangan langit biru, aku menyukaimu. Seperti awan yang begitu halus memasuki rongga dadaku pertama kalinya waktu dulu.


Seperti awan. Itulah dirimu. Sangat mudah disukai, sangat membuat jatuh hati. Membuat siapa saja yang melihatnya ingin sekali menggenggam atau bermain-main diatasnya seakan mereka lembut dan empuk seperti kelihatannya.


Namun, seperti layaknya awan-awan dilangit, kau diciptakan bukan untuk digenggam. Membuat orang terbang tinggi hanya untuk merasakan kelembutanmu, tapi kemudian jatuh tersungkur ke bumi. Kau hanya kumpulan air yang menggantung di langit.

Minggu, 03 Juni 2012

Kupumu


Aku menjelma kupu tak bersayap di kertas gambarmu
Aku merasakan tiap goresan kasih sayangmu
Meliuk-liuk mesra...
atau garis-garis tajam tegas

Aku adalah kupu tak bersayap di kertas gambarmu
Yang kau tuangkan padanya warna-warnamu
Cintamu memerah padaku
Senyummu menghijau sebagianku
Dan dukamu membirukanku

Aku kupu tak bersayap di kertas gambarmu
Yang kau tambahkan dua helai sayap indah dibalik punggungnya
Tapi sayap itu hanya bisa menghiasiku saja
Karena sayapku bukanlah goresan tinta
Sayapku, dia nyata...
Sayapku kuat dan mempesona
Sayapku yang sederhana

Aku memang kupu tak bersayap di kertas gambarmu
Dan sayapku,
Itu kamu...
Seorang yang mengembangkannya
Dan mengepakkannya  hingga aku dapat terbang disisimu

Akulah kupu tak bersayap di kertas gambarmu
Yang melihat diriku melalui dirimu
Yang terbang dengan kekuatanmu
Yang mempelajari dunia melalui matamu
Karna aku kupumu...

Kamis, 31 Mei 2012

Mana yang lebih baik?


Adakah marah yang begitu hebatnya, hingga memampukanmu untuk mencampakkan orang yang telah mempertemukanmu dengan hal terbaik yang tengah kau miliki dalam hidupmu?? Patutkah saya membencinya?? Memangnya siapa saya?? Tuhan pun tidak sembarangan membenci makhluk-Nya. Nabi pun tidak serta-merta membenci umatnya yang tidak menyukainya. Saat embun pagi berubah menjadi rintikan hujan, alam seakan berkata.. sebaik-baiknya insan adalah insan yang dengan cepat menghapuskan amarah dan dengki dalam hatinya, digantikannya dengan maaf dan kasih sayang.

Bukankah rasa MARAH seharusnya jadi rahmat untuk mentenagai ketegasan mengubah keadaan menjadi lebih baik, dan bukannya untuk menghinakan diri dan merusak hubungan baik dengan sesama?? Bagaimana bisa terbang jika belum-belum sudah takut terjatuh ke tanah? Bagaimana mau punya sayap indah bila terus-terusan main di lumpur? Bagaimana bisa jadi orang besar yang hebat bila terus mengkerdilkan diri dengan hal-hal sepele yang tidak bisa dipertanggungjawabkan?

Bukankah Tuhan itu Maha Memaafkan? Bukankah Nabi juga pemaaf? Bukankah insan sejati itu hanya bernaung dalam lindungan Tuhannya dan menirukan Nabinya?

Tubuh ini bergetar menyimpan amarah yang amat sangat. Seakan dia berpesan pada saya, ini semua telah melampaui batas kemanusiaanmu. Jangan lagi kau siksa dirimu dengan menyimpan hal-hal buruk yang tidak sesuai dengan jiwa kemanusiaanmu. Itu akan mengotori hatimu, akalmu, dan aku tubuhmu.











Bukankah...
Maaf itu mulia?


Selasa, 27 September 2011

Album Foto

Matahari mulai tenggelam di barat. Cahayanya yang memerah memasuki ruang tengah melalui celah-celah tirai jendela tipis putih itu. Membuat seisi ruangan bernuansa jingga keemasan. Seorang wanita tua berjalan tertatih kearah kursi goyang dekat perapian yang belum menyala. Tangan kanannya menggenggam ujung tongkatnya dengan kuat sambil terus melangkah. Sementara tangan kirinya memegang sebuah album foto tua berwarna coklat kusam. Setelah sampai depan perapian, dia meletakkan album foto itu diatas kursi goyang dan dengan gerakan yang lambat merunduk menyalakan perapiannya dengan pematik api. Kemudian mengambil kembali album foto itu dan duduk diatas kursi goyang seraya memangku album foto tuanya.
       Senja hari itu berjalan sangat lambat. Bahkan lebih lambat dari kepakan sayap kupu-kupu yang senantiasa memenuhi taman belakang rumah Mira, sedari dia muda belia dulu, hingga kini saat ia telah mencapai penghujung usianya. Mira membelai cover album foto usang itu. Matanya berbinar, jantungnya berdetak agak lebih cepat dari biasanya. Banyak yang akan terjadi saat dia membuka lembar pertama album foto itu. Bukan disekitarnya, tapi dalam kepalanya. Dan detakan jantungnya kian memburu hingga Mira akhirnya membuka lembar pertama album fotonya.
       Terlihat gambar seorang pria muda tampan dengan seorang wanita muda yang cantik, yang memiliki mata seindah Mira. Diantara mereka ada sosok bayi mungil dengan telapak tangan terkatup dan pipi merah merona sedang terlelap. Bibir keriput Mira menyunggingkan senyuman melihat potret masa kecilnya. Samar-samar terlihat senyum termanis yang pernah dimiliki seorang gadis belia puluhan tahun yang lalu. Saat bibir itu masih memerah layaknya bunga yang baru merekah, saat pipi itu masih kenyal dan berseri-seri. Senyum yang terlihat sama dengan senyuman sosok pria muda dalam foto itu. Salah satu persamaan antara dia dan dirinya dalam foto itu adalah mereka sama-sama rapuh. Bedanya saat itu dia masih rapuh tapi siap menantang dunia. Dan sekarang Mira kembali rapuh, serta membelakangi dunia. Mira merasa dunia bukan lagi diperuntukkan untuknya, maka dia memilih hidup dengan kenangan-kenangannya. Jemarinya gemetar membelai sosok kedua orangtuanya. Kemudian dibukanya lembar kedua.
       Mira ingat saat itu. Itu salah satu saat terindah dalam hidupnya. Itu saat dia merayakan ulangtahunnya yang ke-7. Itu perayaan ulangtahunnya bersama kedua orangtuanya untuk yang pertama, dan terakhir. Gadis kecil itu meniup lilin dengan penuh semangat dan pengharapan akan hidup bahagia yang membumbung tinggi. Hingga ketidaksiapannya terlihat jelas di lembar ketiga album foto Mira. Sosok Mira berumur 9 tahun dengan ayahnya, saat mereka sedang tertidur berdua. Foto itu diambil oleh bibinya waktu ia dan ayahnya berkunjung ke kampung halaman nenek untuk pemakaman nenek, dua tahun setelah ibunya memutuskan untuk pergi dari hidup mereka. Bukan tanpa alasan ibunya pergi. Mereka bertengkar hebat bahkan sampai tak sadar sedang diawasi gadis berusia 7 tahun. Paginya Mira tidak lagi memiliki ibu. Wanita itu pergi dan tak kembali. Tak ada kabar, bahkan sekalipun Mira terus menunggunya. Diantara semua fotonya berdua dengan ayahnya, Mira hanya menyimpan yang satu itu. Mira merasa selembar foto itu bermakna sangat dalam.
      Setahun setelah sepeninggalan neneknya, Mira kehilangan ayahnya. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan saat sedang bekerja. Mira merasakan hidupnya runtuh berkeping-keping. Meskipun kesehariannya ayahnya tidak terlalu banyak bicara lagi seperti dulu, tapi keberadaannya setidaknya membuat Mira merasa tidak benar-benar sendirian. Dan saat itu perasaan setengah nyaman atas kebersamaannya dengan ayahnya terenggut habis dengan perginya satu-satunya sosok nyata dalam hidupnya. Mulai saat itu Mira belajar melangkah sendiri. Melakukan, memikirkan dan merasakan apapun sendiri.
       Di lembar selanjutnya rona wajah Mira berubah. Sesuatu dalam foto itu membuatnya nampak sedih tak terhingga. Sesosok pria muda menggunakan seragam kelulusannya. Pria itu tersenyum lebar padanya, seakan berkata "Lihat aku, Mira. Tersenyumlah saat kau melihatku". Dan Mira melakukannya. Bibirnya tersenyum, dengan mata berkaca-kaca. Disudut kiri bawah foto ada gambar hati kecil. Mira mengenalinya sebagai karyanya sendiri, saat ia diam-diam jatuh cinta pada pria yang baru dikenalnya 6 bulan terakhir, Ken. Foto selanjutnya adalah foto dimana Mira dan Ken sedang jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, menghabiskan waktu berdua. Dalam foto itu Mira begitu berbeda. Dia tertawa lebar sekali. Seingatnya saat itu dia bukan hanya tertawa lebar. Saat itu dia sedang terpingkal-pingkal karena tingkah Ken. Yang tak disangka tangan Ken terjulur dan mengambil gambar mereka saat Mira sedang tertawa terbahak-bahak.
       "Aku selalu ingin mengabadikan tawamu, tapi selalu terlambat." kata Ken setelahnya. "Thank God hari ini kau tertawa lepas dengan durasi yang agak lama dari biasanya, jadi aku akhirnya bisa melakukannya."
Mira ingat, hari itu dimana Ken mengantarnya pulang dan berkata, "Bolehkan aku menyukaimu?" Membuat jantungnya berdegup kencang lagi untuk pertama kalinya, setelah lama jantungnya berdetak tak berirama dan hanya berdetak. Dan saat itu Mira mulai merasakan irama itu kembali ke balik rongga dadanya.
    "Sebenarnya, aku sudah lebih dari menyukaimu," kata Ken lagi, saat Mira menjawab "Ya" untuk pertanyaan sebelumnya. "Apakah itu tidak apa-apa? Apa kau keberatan dengan itu?" Mira hanya bisa menggeleng sambil tersenyum. Apa yang membuatnya tersenyum saat itu Mira pun tak tahu.
       Foto di lembar selanjutnya adalah potret kebahagiaan dalam hidup Mira, yang menurutnya akhirnya kembali setelah beberapa dekade bersembunyi entah kemana. Itu foto saat dirinya dan Ken, pria yang dicintainya, mengikat janji suci dihadapan Tuhan. Mengenang masa itu membuat wajah keriput wanita 70 tahun itu kembali merona. Setitik air hangat menyembul keluar dari sudut kelopak matanya. Saat itu Mira merasakan kebahagiaan dan ketakutan sekaligus. Potret-potret kehidupannya di masa lalu menghantuinya. Tapi genggaman tangan Ken terlalu kuat untuk dilepaskan. Dan Ken terus saja menuntunnya untuk melangkah maju bersamanya. Seakan berkata "Tidak ada yang perlu ditakutkan jika bersamaku".
        Kemudian Mira melihat pria paruh baya sedang mencium perut istrinya yang sedang hamil tua. Foto itu diambil saat Mira sedang mengandung 8 bulan. Itu 5 tahun setelah pernikahan mereka. Saat itu Ken terlampau bahagia karena apa yang paling dinantikannya akhirnya akan datang. Anak pertamanya. Keng yang kalap telah menyiapkan segalanya untuk si bayi. Kamar tidur, baju-baju, sepatu, mainan bahkan tabungan untuk pendidikannya. Dia adalah ayah yang paling siap sepanjang sejarah. Tapi Tuhan berkehendak lain. Mira mengalami kecelakaan dan mereka kehilangan bayi mereka. Kecelakaan kecil, yang merenggut sesuatu yang besar. Mimpi Ken. Mira tidak akan bisa mengandung lagi, rahimnya diangkat. Bersama impian Ken dan sebagian besar kebahagiaan Mira didalamnya.
       Setelahnya Ken tidak pernah sama lagi. Dia selalu hidup dengan perasaan bersalahnya pada Mira, pada bayinya yang telah tiada. Mereka kerap bertengkar. Tiap kali bertengkar dan mereka mengurung diri di ruangan masing-masing Mira selalu merasa Ken menjauh darinya dan sebentar lagi dia akan pergi seperti yang dilakukan ibunya dulu. Tapi kemudian Ken kembali. Ken selalu kembali. Dan setelah bertahun-tahun mereka hidup bersama dan bertengkar, akhirnya Mira sadar, Ken tidak pernah menjauh. Mira mulai mengerti makna cinta. Yang selama ini tidak pernah diajarkan siapapun kepadanya. Mira dan Ken menua bersama.
"Aku selalu ingin mengabadikan tawamu, tapi selalu terlambat." kata Ken setelahnya. "Thank God hari ini kau tertawa lepas dengan durasi yang agak lama dari biasanya, jadi aku akhirnya bisa melakukannya."
       Airmata mengalir deras membasahi album foto, ketika Mira melihat foto Ken tua sedang berkebun dan tersenyum lebar kearahnya. Ken selalu melakukannya, memaksa Mira tersenyum dengan senyumannya, tak peduli seburuk apa suasana hati Mira saat itu. Mira tetap merasa senyum Ken senyum paling menawan, sekalipun saat itu giginya tak lagi putih rata seperti gading. Ken tua hanya tinggal memiliki dua pasang gigi. Dan saat dia meninggal, giginya sudah habis semua (*hehehe!). Ken meninggal saat umurnya mencapai 70 tahun. Saat itu umur Mira baru 67 tahun. Ken pergi dengan membawa segenap hidup Mira bersamanya. Dan semuanya tidak kembali lagi.
      Mira menutup album foto tuanya. Menghapus airmata yang membasahi pipi keriputnya. Hari ini Mira sengaja memakai gaun indah pemberian Ken saat mereka berdua merayakan ulangtahun pernikahan mereka yang ke-39. Gaun itu gaun terakhir yang dibeli Ken. Setelah itu mereka terus merayakan ulangtahun pernikahan dengan pakaian yang sama tiap tahunnya. Dan hari ini adalah hari ulangtahun pernikahan mereka yang ke-43.
      "Selamat ulangtahun, sayang." Kata Mira sambil tersenyum lemah pada foto pernikahannya yang terpasang di dinding. Mira merasa lelah luar biasa. Mungkin  semua persiapan ini yang membuatnya kelelahan. Mungkin dia harus beristirahat sejenak. Mungkin jika dia menutup matanya sekarang, dia akan bertemu dengan Ken muda yang mengajaknya berdansa, dan ia, gadis belia dengan bibir bergincu merah menantang, menerima ajakan kekasihnya. Mungkin...

      Semburat pucat kemerahan nampak di ufuk timur. Seleret cahaya menerobos masuk melalui tirai-tirai itu. Cahaya mentari pagi menari-nari diatas tubuh Mira tua yang tak bernyawa. Kini, gadis belia itu kembali tertawa, bersama sang kekasih, berdansa.

Kamis, 22 September 2011

Aku dan Cinta (part 2)

Ada dua macam rasa sakit di hati yang aku tahu. Pertama, rasa sakit saat kita baru saja diberi luka itu. Kedua, rasa sakit saat kita mengira luka itu berangsur membaik tapi ternyata tidak. Luka itu masih tetap disana. Menganga. Hanya kita yang terbiasa dengan rasa sakitnya.

Dalam hidup seorang manusia biasanya ada dua orang yang baginya teramat sangat terpenting. Yaitu mereka yang membawa kehidupan untuknya, orangtua. Dalam hidupku, bukan hanya dua orang yang telah membawa kehidupan bagiku. Banyak pihak yang juga ikut serta dalam carut-marutnya kehidupanku. Tapi bagiku, kedua orang itu sama pentingnya seperti pendapat orang pada umumnya. Namun sayangnya mereka lebih memilih mengukir nama mereka dihatiku dari kejauhan. Aku sudah kehilangan dua orang terpenting dalam hidupku itu, jauh sebelum aku sadar seberapa pentingnya mereka bagiku. Jauh sebelum aku mendapati diriku sangat membutuhkan dan merindukan mereka. Itu kehilangan yang paling besar sepanjang sejarah hidupku. Tapi kenyataannya telah kulalui. Tanpa terlalu banyak airmata yang mengalir di depan umum kalau boleh dibilang. Sekalipun dalam kesendirian aku berenang di samudera airmata, aku pikir itu manusiawi. Tapi tetap saja, aku masih berdiri tegap diatas kakiku sendiri. Mengalahkan segala rasa sakit yang mungkin untuk sebagian orang hanya ada di cerita-cerita dongeng. Dongeng yang mengerikan, bukan yang indah.
Pada kenyataannya, masing-masing dari kedua orangtuaku memutuskan untuk tidak membiarkan hatiku terlalu tertaut pada  mereka, begitu juga sebaliknya. Sehingga jika tiba saatnya bagi mereka untuk menghilang dari kehidupanku, masing-masing dari kami tidak terlalu tersakiti. Tidak mengalami kehilangan yang terlalu besar. Agar  kami bisa meneruskan kehidupan kami masing-masing tanpa memikul beban rasa sakit yang terlalu besar. Dan itu berhasil. 60% berhasil.
Dengan pengalaman kehilangan sebesar itu harusnya bisa dibilang aku telah menyeberangi samudera api, atau berjalan dengan bintang dan bulan dibawah kakiku. Harusnya sudah tidak ada yang perlu aku takutkan lagi dalam hidup ini. Apalagi yang harus aku takutkan akan pergi dariku? Orangtua adalah segalanya, dan itu juga sudah pergi dariku. Tapi ternyata aku salah. Alam semesta membuktikannya. Bahkan intuisiku yang paling tidak peka pun ikut berpendapat sama. Ternyata masih banyak yang harus aku takuti, nanti (diluar dari Tuhan karena itu mutlak untuk ditakuti). Dan semuanya tiba-tiba mulai berdatangan seiring dengan datangnya seorang teman.

Seperti lagunya Savage Garden - "I Knew I Love You". Awalnya, liriknya yang berbunyi "I knew I love you before I met you" selalu sulit kucerna. Aku bersikeras, mustahil ada hal seperti itu, sama mustahilnya dengan orang yang berkata dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Bagiku tidak akan ada ketertarikan sebelum kita sudah saling kenal dalam waktu yang cukup lama. Tapi aku kenal seseorang, yang sekarang sudah menjadi temanku. Lebih dari teman, lebih dari sahabat juga. Bahkan bisa dibilang lebih dari semua yang aku punya di dunia ini. Dia merubah pemikiranku. Seperti merubah ketidakpercayaanku atas bunga edelweis yang katanya abadi menjadi 100% percaya.
Dia sudah memasuki hidupku sebelum aku sadar kalau aku menginginkannya masuk ke dalam hidupku. Dia sudah menarik perhatianku sebelum aku menyadarinya. Bukan pengalaman yang menyenangkan, karena rasanya seperti kecolongan. Dan aku bukan tipe yang mudah memberi perhatian ---pengalaman hidup dan lingkungan yang mengajariku begitu. Tapi dia melakukannya, mungkin tanpa sengaja, tapi dia tetap sudah melakukannya. Membuatku risih dan berusaha menjauhkan diri. Namun semakin besar keinginanku menjauhkan diri darinya, aku malah semakin tertarik, entah oleh apa, mendekat dengannya. Sampai akhirnya aku tidak sanggup lagi, bahkan hanya untuk membayangkan, untuk menjauhkan diriku darinya. Dia seperti sungai Amazon, dan aku membiarkan diriku terbawa arusnya tanpa perlawanan.
Makin hari hatiku makin tertaut padanya. Dan tautan itu makin mengerat begitu aku merasakan dia juga mulai menautkan hatinya padaku. Terkadang aku mengingatkan diri sendiri ini tidak baik, kedekatan yang berlebihan dengan seseorang. Karena yang kutahu semua itu, seindah apapun awalnya, pasti bermuara pada sebuah perpisahan. Dalam perpisahan sudah pasti ada airmata dan, hal yang ingin selalu kuhindari, rasa sakit. Tapi semakin sering aku ingatkan diriku, semakin aku sulit mengingat seperti apa rasa sakit itu hingga aku harus merasa setakut itu. Membuatku terus melangkah tanpa pikir panjang.
Sekarang, jika harus aku merasa takut, itu lebih dari kata terlambat. Bahkan tidak ada gunanya lagi bagiku untuk repot-repot memikirkannya. Karena semua yang aku takutkan sudah setengah jalan didepanku. Ironisnya, aku sendiri yang menapaki kakiku untuk mendekat. Sekarang, yang aku rasakan hanya kelegaan. Karena yang kucari-cari sudah kutemukan. Dia temanku. Temanku mengarungi ribuan rasa dimuka bumi ini. Temanku saat aku kebingungan, teman saat aku tertawa dan menangis, bahkan teman saat aku dibakar amarah dan teman saat aku bersikap kekanak-kanakan. Saat aku sedang mengalami masa-masa dimana kebanyakan orang akan menarik diri menjauh dariku dan membelakangiku, dia temanku malah mengulurkan tangannya untukku. Sekalipun dia sendiri tertatih dan berdarah. Dia bahkan tidak mengabaikanku. Saat itu aku tersadar. Dia bukan sungai deras yang arusnya membawaku kemana ia mau. Kami sama-sama terbawa arus deras dari sungai hati kami.
Nanti, jika tiba saatnya kami untuk berpisah karena alasan dan atau sebab yang belum terpikirkan olehku saat ini, kami akan mengalami kehilangan yang amat besar, dan masing-masing dari kami harus menanggungnya akibat dari apa yang telah kami lakukan sekarang. Membiarkan dua hati menjadi terpaut begitu eratnya. Seperti bayi yang terlahir kembar siam, saat dipisahkan dengan gunting dan pisau bedah keduanya akan tersiksa dan salah satunya akan mati hanya karena tidak mampu menahan perihnya terpisah dari sebagian dari dirinya. Cepat atau lambat aku dan dia pasti merasakan hal yang sama, dengan masing-masing dari kami harus menanggungnya sendiri-sendiri. Tidak akan ada dia untuk menguatkanku, dan tidak mungkin untukku datang padanya dan berkata "jangan bersedih, aku disini".
Nanti, segalanya akan berbeda dengan yang pertama. Aku akan kehilangan sesuatu yang besar, lagi. Tapi kemudian kami sama-sama sadar. Perpisahanlah yang membuat pertemuan dan kebersamaan itu menjadi indah dan bermakna. Tanpa menyadari akan adanya perpisahan suatu saat nanti, kami tidak akan saling merangkul dan menyayangi saat ini. Temanku, berjuang ya. Semangat!! ^_^


"Untuk teman hati, yang selalu bersabar dan setia menemani. Tulisan ini untukmu."

Minggu, 18 September 2011

Creative Writting Class

Kemarin ikut kelas menulis kreatif, pematerinya mbak Artasya Sudirman. Doi nyuruh saya semua peserta bikin satu paragraf tentang alas kaki yang kita pakai. Karena kemarin saya memakai sendal, maka jadinya seperti ini;

"Papa pernah bilang, hiduplah seperti sendal. Saat itu juga aku pikir papa mau aku hidup dengan diinjak-injak. Tapi kemudian papa bilang, tanpa sendal kaki kita bakal kotor. Sakit kena batu-batu jalanan. Kita manusia hidup harus bermanfaat seperti sendal. Sebisa mungkin untuk tidak menjadi pihak yang menyakiti tapi malah melindungi. Tulus dan ikhlas seperti sendal. Bukannya diam saja diinjak-injak, tapi hidup berdedikasi atas apa tujuan penciptaan kita yang sebenarnya. Dan aku pun mengerti."

Disuruh diposting di blog masing-masing, jadi ta' posting wae. Hehehe.

Jumat, 22 April 2011

From Me To You


After that smile you came around
You came into my life
Stuck in my eyes
Dance in my dreams
After that smile you fill my soul
Bring me the joy and give me hold
After that smile you moved away
You said you just have to go anyway
Please come to me dear..
Because I need you here
I miss your laugh, I love that sounds
It's hard to breathe when you're not around
Please come to me now
For Godsake I vow
My heart's going low if you're not show
Because you're the laughter
You're the heartbeats
You're the smiles..
And you're the soft touch of God
You're the breeze on my heart
You're the one..

Valeria Veltri

Rabu, 13 April 2011

Rindu Dalam Hati

 Saat pagi datang namun fajar belum lagi keluar dari peraduan
Aku memikirkanmu...
Rindu,
Tak bisa hanya sekedar dilisankan
Tak bisa lagi dijabarkan hanya dengan bantuan
kata-kata manis dari bibir pendusta
Rindu ini terlalu dangkal
jika hanya dituangkan dalam kata-kata mesra
Biar rindu ini kuabadikan
dalam goresan pena...
Kau seperti semilir angin di tepi pantai
bergesekan dengan daun-daun kelapa hijau yang melambai-lambai disana
Kau seperti debur ombak yang membasahi kakiku dan kicauan burung-burung dilangit
Kau adalah birunya langit yang dihiasi awan berarak bagai kapas putih bergelung
Kau adalah bentangan padang rumput hijau yang bergoyang ditiup angin
Kau adalah tetes embun pertama di pagi hari,
dan warna keemasan mega di penghujung hari
Kau adalah langkah kaki anak-anak kecil yang berlarian mengejar mimpi
Kau adalah tangan-tangan pelukis yang sedang membelai kanvasnya
Kau adalah bintang yang berkedip untuk bulan
Kau adalah teman...
Kau sahabat jiwa...
Kau rindu dalam hati...

Sabtu, 22 Januari 2011

TERSENYUMLAH, Anda di Dunia Ketiga

Pada saat kafe-kafe dan tempat-tempat permainan dipenuhi oleh para pemuda, sementara masjid-masjid dan perpustakaan mengeluh karena sepi, maka anda ada di dunia ketiga. Pada saat para biduanita diundang sebagai bintang tamu untuk berbicara tentang kemerdekaan Palestina, maka wajib bagi anda untuk menangis karena anda berada di dunia ketiga. Pada saat anda belajar 6 tahun di SD/MI, 3 tahun di SMP/MTs, 3 tahun di SMA/MA/SMK, lalu 4-5 tahun di perguruan tinggi, kemudian anda mendapati diri anda bekerja di pasar sayur, maka janganlah berputus asa, anda berada di dunia ketiga. Pada saat anda bangun tidur dan mendapati HP anda menerima SMS dari perusahaan seluler yang tak bernilai apa-apa, maka anda berada di dunia ketiga. Pada saat terdapat banyak majalah yang mementingkan seni, kemudian tidak ada satu majalah atau buletin ilmiah, maka ini adalah bukti anda hidup di dunia ketiga.

Pada saat anda tidak bisa naik jabatan dalam pekerjaan anda kecuali dengan PERANTARA, tidak bisa mendaftar ke perguruan tinggi tanpa PERANTARA, tidak bisa mendapatkan pekerjaan kecuali dengan PERANTARA, dan tidak bisa mendapatkan hak kecuali dengan PERANTARA, maka anda adalah masyarakat miskin, teraniaya, terzalimi yang hidup di dunia ketiga.
Bukankah aku telah mengatakan...
TERSENYUMLAH, ANDA BERADA DI DUNIA KETIGA!











Sumber : Qiblati edisi 11 tahun IV

Jumat, 21 Januari 2011

Persembahan Sahabat

  • Larangan Khusus Ibu
Puisi ini dituliskan oleh salah satu sahabat saya waktu kami duduk di kelas 1 SMA. Entah kenapa dia menulis puisi ini dan memberikannya kepada saya bersama dengan 2 puisi lainnya yang ada di bawah. Saya memutuskan untuk mengabadikannya disini, karena kertas dari dokumen asli puisi ini sudah mulai lapuk. Saya masih akan tetap menyimpannya hingga kertas itu hancur dengan sendirinya, tapi setidaknya saya sudah mengabadikannya disini. Suatu saat saya akan membaca posting ini dan teringat, bahwa sahabat saya pernah mempersembahkan beberapa buah pikirannya yang original kepada saya. Here it is...

Apa yang dikatakan Ibu slalu larangan...
Dulu waktu baru belajar makan, "jangan blepotan!"
Waktu baru mulai sekolah, "jangan nakal!"
Waktu aku hobi main pasir, "jangan, ntar kotor!"
Ibu juga slalu benar soal apapun...
Makanku rapi, jadi gak kotor
Gak nakal di sekolah, jadi disayang guru ama temen-temen
Gak main pasir, jadi gak dekil
Tapi Ibu juga slalu sok tau...
"Jangan temenan sama si A! Begini..begini..begini.."
Uh, apa sih yang Ibu tau tentang si A yang super baik?
"Jangan suka gonta-ganti make-up ntar jerawatan"
Ah, Ibu, kan yang penting rajin dibersihin...
"Ikut eskul jangan kebanyakan! Ntar sakit!"
Ibu...kan banyak multivitamin

Sok taunya Ibu ada benarnya
Gara-gara banyak eskul, aku sakit...
Gara-gara gonta-ganti make-up mukaku jerawatan...
Itulah 'Larangan Khusus' Ibu
Andai 'Larangan Khusus' ini gak aku bantah
"jangan ketipu sama muka imut cowok, ntar nyesel lho..."
Oh Ibu!!! U're the best!!!
  • Life Goes On, Must Goes On...!
Puisi ini dituliskan sahabat untuk saya bersamaan dengan puisi di atas. Yaitu saat saya mengalami patah hati untuk pertama kalinya.  Dia mencoba menghibur saya yang sedang bersedih dengan kata-kata khas anak remaja, tapi tetap bermakna. Setidaknya untuk saya. This is it...
Antara teman, dan cinta...
Antara penasaran, dan gundah
Antara benci, dan sesal
Antara tangis dan tawa
Antara sedih kemarin
dan ceria hari ini...
Antara kagum kemarin
dan benci hari ini 
Hari kemarin adalah teori, hari ini prakteknya
Hari kemarin kelabu, hari ini ditambahin warna cerahnya
Hari kemarin ketahuan belangnya, hari ini cari gantinya (hahaha)
Kalau kemarin dia menghabisimu,
giliranmu hari ini mencabut nyawanya!
Dan,
Kalau kemarin kurang hati-hati
Hari ini harus lebih teliti... :)
  • Puisi Terakhir
 Puisi ini juga diberikan oleh salah satu sahabat pada waktu yang sama. Ketiga puisi ini memang berada dalam selembar kertas, yang sekarang mulai menguning (padi kalee!). Puisi ini sengaja dibuatkannya untuk saya atas permintaan dari saya, untuk membuatkan puisi yang bertema "Selamat Tinggal". Dan, ini dia...

Aku masih ingin menatap mentari esok
Aku masih ingin merasakan sinar bulan menerpa wajahku
Aku masih ingin melihat langit senja berubah menjadi gelap
Tapi Dia tak lagi memberiku kesempatan
Hanya ada sedikit waktu untuk bersamamu
Membahagiakan dirimu,
orang yang paling ingin kulihat senyumnya saat aku pergi...
Aku ingin saat ini menjadi hal terindah dalam hidupmu
Aku ingin tawa terakhir kudengar darimu
Dan bukan tangis...
 Aku ingin meninggalkanmu dalam damai
Aku ingin tetap menyatu denganmu walau ragaku membusuk
Aku ingin tetap membuatmu bahagia,
walau aku di nirwana, kau di dunia...
walau puisi ini yang terakhir dariku,
untukmu...

Terima kasih untuk segala perhatian, kasih sayang dan ketulusan kalian selama kita bersama. Dimanapun kalian berada, dan apapun yang terjadi, tidak akan merubah apa yang menjadi sejarah kita. Miss you all...^^

Kamis, 20 Januari 2011

KADO PEMERINTAH UNTUK RAKYAT DI TAHUN BARU 2011

"Kenaikan Harga BBM Lewat Pembatasan Subsidi"

Rencananya, mulai Maret 2011 Pemerintah akan mengurangi subsidi BBM dengan melarang mobil pribadi berplat hitam menggunakan BBM bersubsidi. Pembatasan tersebut aka dilakukan secara bertahap, mulai di Jabodetabek hingga mencakup seluruh Indonesia pada 2013. Belum tampak penolakan masyarakat, padahal kebijakan pembatasan subsidi BBM juga berdampak sama dengan kenaikan harga BBM. Setidaknya, ada enam alasan untuk menolak kebijakan itu.

Pertama; Indonesia memiliki cadangan migas yang sangat besar. Tapi, sebagian besar justru dikuasai pihak asing. Data kemESDM 2009, dari total produksi minyak dan kondensat di Indonesia, Pertamina hanya memproduksi 13,8%. Sisanya dikuasai oleh swasta asing seperti Chevron (41%), Total E&P Indonesia (10%), Chonoco Philips (3,6%) dan CNOOC (4,6%). Ketika kontrak habis, pemerintah melalui BP Migas malah memperpanjang kontrak itu ketimbang menyerahkannya kepada Pertamina. Di sisi lain, dalam UU Migas 22/2001, Pertamina diperlakukan sama dengan perusahaan swasta sehingga harus bersaing untuk mendapatkan konsesi pengelolaan ladang migas. Kebijakan ini berkebalikan dengan negara lain seperti Malaysia yang memberikan wewenang sangat besar kepada Petronas sehingga mampu menggeser dominasi swasta. Di Cina dan sejumlah negara Amerika Latin sektor energi sepenuhnya dikuasai oleh negara. Sehingga produksi dan harga di pasar domestik bisa dikendalikan.

Kedua; Bahwa subsidi BBM yang selama ini dianggap membebani APBN dan sering salah sasaran merupakan pernyataan 'menyesatkan'. Menurut Pemerintah, subsidi BBM adalah selisih harga patokan dikurangi harga eceran yang dijual Pertamina. Pada Perpres 71/2005 disebutkan bahwa Harga Patokan adalah harga yang dihitung setiap bulan berdasarkan MOPS rata-rata pada periode satu bulan sebelumnya ditambah biaya distribusi dan margin. MOPS atau Mid Oil Platt's Singapore adalah harga transaksi jual-beli pada bursa minyak di Singapura. Subsidi tersebut dibayarkan Pemerintah kepada Pertamina yang telah menjual BBM dengan harga eceran yang telah ditetapkan Pemerintah yang lebih rendah dari harga patokan (internasional). Pertanyaannya; apakah Pertamina betul-betul rugi karena menjual BBM dibawah harga patokan? Jika biaya produksi dan distribusi lebih rendah dari harga patokan maka Pertamina tentu rugi. Namun, jika lebih tinggi maka Pertamina tetap untung.

Lalu berapa biaya produksi BBM Pertamina untuk Premium dan Pertamax? Karena tidak tersedia data dari Pertamina maka untuk menghitungnya bisa digunakan data persentase komponen harga rata-rata bensin (gasoline RON 95) di USA yang sebanding dengan kualitas Pertamax. Harga bensin = Minyak Mentah (51%) + biaya pengilangan & keuntungan (15%) + biaya distribusi & pemasaran (12%) + pajak (22%) (http://tonto.eia.doe.gov/). Harga minyak mentah Pertamina diperoleh dari biaya produksi, cost recovery (US$ 940,7 juta) dibagi total lifting minyak mentah 2007 sebesar 38,9 juta barel (BPK, Perhitungan Kewajiban Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS)). Hasilnya, US$ 24,2/barel atau US$ 0,15/liter atau Rp1.368 jika dirupiahkan dengan kurs Rp9.000. Harga ini sebenarnya cukup mahal karena cost recovery Pertamina jauh lebih tinggi daripada rata-rata cost recovery perusahaan minyak Indonesia yang berkisar US$ 13,82/barel pada 2007 (http://www.scribd.com/doc/38206301/Crude-Oil-Cost-Production).


Dengan rumus di atas, harga Pertamax semestinya hanya Rp 2.638/liter. Premium dengan oktan yang lebih rendah tentu lebih murah. Lalu mengapa harga jual Premium dan Pertamax lebih mahal? Ini karena harga minyak mentah diperhitungkan menggunakan harga minyak di pasar internasional meski sebagian besar diproduksi oleh Pertamina sendiri. Dengan demikian, apa yang dianggap kerugian Pertamina yang kemudian diganti oleh Pemerintah bukanlah merupakan kerugian nyata, namun hanya potential loss (hilangnya potensi laba) karena dijual tidak dengan harga internasional. Jika demikian maka dana subsidi Pemerintah sesungguhnya hanya keluar dari kantong kanan dan masuk lagi ke kantong kiri melalui laba yang diperoleh Pertamina.


Ketiga; Pembatasan BBM bersubsidi dalam jangka panjang akan menguntungkan SPBU Perusahaan Minyak Asing, seperti Total, Shell dan Petronas. Selama ini SPBU-SPBU tersebut mengalami kerugian karena konsumen lebih memilih Premium yang lebih murah, yang dijual oleh SPBU Pertamina. Dengan adanya pembatasan subsidi BBM, maka seluruh pengguna mobil pribadi dipaksa menggunakan bahan bakar yang kadar oktannya lebih tinggi seperti Pertamax atau yang diproduksi oleh SPBU asing. Dengan harga yang lebih murah karena biaya produksi yang lebih efisien dan kualitas yang mungkin lebih baik sangat mungkin konsumen akan memilih produk SPBU asing ketimbang Pertamina. Jika tidak ada inovasi maka kegiatan Pertamina di sektor hilir dipastikan akan makin menurun. Hal ini tentu akan merugikan Pertamina. Sudahlah di sektor hulu tergerus, di sektor hilir pun tersingkir.


Keempat; Kegiatan usaha Pertamina belum berjalan secara efisien khususnya dalam produksi dan pengadaan minyak mentah. Menurut temuan BPK tahun 2008 (BPK, Pengadaan Minyak Mentah dan Produk Kilang Tahun 2007 dan 2008 (Semester I) pada Pertamina), disebutkan sumber ketidakefisienan Pertamina antara lain :
  1. Dalam pengadaan minyak mentah dan BBM, Pertamina cenderung mengimpornya melalui jasa rekanan yang sarat dengan manipulasi sehingga menjadi mahal. 
  2. Pertamina lebih banyak menggunakan kapal sewa daripada kapal milik sendiri sehingga biaya angkut lebih mahal (Pertamina, Annual Report 2007).
  3. Dalam jumlah tertentu, Pertamina lebih memilih untuk mengimpor daripada menggunakan produksi dalam negeri yang tidak membutuhkan biaya pengapalan.
  4. Pertamina mengimpor BBM karena keterbatasan kapasitas kilang yang hanya sebesar 1 juta brel perhari, hanya memenuhi 63% kebutuhan dalam negeri. Padahal dengan memproduksi sendiri biayanya akan lebih murah sehingga harga minyak yang dijual akan lebih rendah.
Kelima; Pembatasan subsidi BBM merupakan langkah bertahap Pemerintah untuk menghapus subsidi BBM. Dan ini akan menekan daya beli masyarakat khususnya masyarakat miskin. Pembatasan subsidi BBM yang diikuti dengan pemaksaan mobil plat hitam untuk mengkonsumsi Pertamax dipastikan akan makin membebani rakyat. Harga Pertamax mengikuti harga pasar internasional (seperti sekarang dengan harga minyak internasional di atas 90 USD/barel, harga Pertamax di atas Rp 7000). Padahal harga tersebut banyak dipengaruhi oleh kegiatan spekulasi. Membiarkan harga tidak terkendali akan membuat pengeluaran rakyat untuk BBM membengkak. Padahal tidak semua mobil plat hitam digunakan untuk transportasi pribadi. Sebagian besar angkutan barang termasuk bahan makanan saat ini masih menggunakan plat hitam. Maka, penggunaan BBM nonsubsidi secara pasti membuat harga barang ikut naik. Jika hal itu terjadi maka kehidupan masyarakat akan semakin sengsara akibat makin mahalnya biaya hidup.

Keenam; Pembatasan BBM dan kebijakan memberikan peran lebih besar kepada pihak asing dalam pengelolaan migas merugikan rakyat, dan ini bertentangan dengan syariah Islam. Migas dan sumber daya alam lain yang melimpah dalam pandangan Islam merupakan milik rakyat yang harus dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat. Pengelolaan SDA dengan lebih banyak menyerahkan kepada pihak swasta adalah kebijakan yang sangat kapitalistik.

Kapitalme adalah sistem yang bertentangan dengan sistem Islam yaitu Khilafah. Khilafah akan menerapkan seluruh syariah Islam dalam kehidupan bernegara, termasuk dalam pengelolaan migas. Dalam Khilafah, kepala negara (Khalifah) bertanggung jawab mengurus segala urusan rakyatnya. Pihak swasta boleh berperan, tapi dalam sektor yang tidak menyangkut hajat hidup rakyat banyak. Maka, kerahmatan akan dirasakan seluruh rakyat.
"Imam (Khalifah) yang memimpin manusia adalah pengurus rakyat. Dia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya" (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wallahu a'lam bi ash-shawab. 










Sumber : Buletin Dakwah Al-Islam
 Edisi    : 538/Th.XVIII/1432 H
http://www.hizbut-tahrir.or.id

Senin, 17 Januari 2011

"SUPERCRAP"

Kesebelasan Indonesia akhirnya memasuki lapangan GBK. Lawan mereka, mALAYs*a, melakukan hal yang sama. Setelah menyanyikan lagu kebangsaan masing-masing, akhirnya wasit meniupkan pluit, tanda pertandingan dimulai. Bola mulai dimainkan. Yang berhasil merebut bola pada kesempatan pertama adalah pemain Indonesia, A. Bola kemudian dioper kearah pemain B. Pemain B menangkap dengan baik, tapi kemudian dari arah penonton ada yang menyorotkan sinar laser kearahnya, membuat konsentrasinya buyar dan bola direbut oleh pemain mALAYs*a. Pemain B protes. Dia menuntut bahwa si penonton itu harus ditindaklanjuti. Setelah diteliti, ternyata si penonton itu memakai wig aneh dan kacamata!!! Polisi bertanya kepada si penonton berwig aneh itu, "Bukannya kamu G**us?!?" Si penonton itu menjawab, "Bukan pak. Itu bukan saya. Itu hanya mirip saya. Sungguh, itu bukan saya."

Permainan dilanjutkan. Pemain C berhasil merebut bola dari pemain mALAYs*a. Beberapa saat pemain C berhasil mencetak gol di gawang mALAYs*a. GBK membahana. Para penonton WNI bersorak gembira. Tapi sorakan penonton mALAYs*a lebih heboh lagi. "SERONOKNYE...! JOM! JOM! mALAYs*a BOLEH! INDON BODOH...mALAYs*a BOLEH!"
Salah satu penonton Indonesia kebingungan. Dia bertanya pada penonton mALAYs*a. "Kok seneng? Kan ente kebobolan?"
Penonton mALAYs*a menjawab, "Tak lah... Barusan tu gol kami, mALAYs*a. Kamu org tu blum gol lagi. Sifar lagi."
"Apaan tuh sifar?"
"Tak tau-taulah.. Kosong!"
"Weleh-weleh!! Gol kita ngaku2 golnya dia!!"
Pertandingan menjadi ricuh gara-gara mALAYs*a mengaku bahwa gol barusan adalah gol mereka. Aneh sangat! Tapi untungnya wasitnya gak segoblok itu, heheheh. Setelah kejadian itu Indonesia dengan segera mematenkan golnya. Dan akhirnya, 1 - 0 untuk Indonesia - mALAYs*a.

Tidak lama setelah itu, pemain D membawa bola kedepan gawang mALAYs*a. Semua tegang menahan nafas. Apakah kali ini Indonesia akan mendapatkan skor kedua dari pemain D? Lalu tiba-tiba pemain D berhenti tepat didepan penjaga gawang mALAYs*a, bola masih ditahannya dibawah kakinya dan belum ditendangnya masuk kedalam gawang lawan. Padahal jarak bola dan gawang lawan hanya beberapa senti. Pemain D lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan Blackberry-nya. Pemain F menghampiri pemain D dan bertanya, "Ngapain lu?" Pemain D menjawab, "Bentar, gue tweet dulu kalo bentar lagi gue mo nendang bola kedalem gawang."

Beberapa menit menjelang akhir permainan, pelatih kesebelasan Indonesia berkata kepada salah satu pemain cadangan yang paling siap siaga, N. Pelatih berkata, "Pemain N, ayo, kamu turun!"
Pemain N kaget. "Lho?!! Kenapa saya harus turun?!!"
Pelatih berkata, "Lho, masa kamu mau disini terus? Ayo, turun!"
Pemain lain ikut berteriak kepada pemain N, "iya sana, turun! Turun!"
Pemain N berkata, "Oo, tidak bisssa! Kalo saya turun, gimana nasibnya P*SI nanti?!?! Pokoknya saya tidak mau turun! Saya akan menempel spanduk-spanduk dgn foto saya sendiri!!! SUpaya saya tidak turun!"
Pelatih hanya bisa menganga melihat pemain N.

Pada menit terakhir pemain G menabrak salah satu pemain mALAYs*a hingga terguling. Nampaknya cidera. Wasit hampir mengeluarkan kartu merah ketika pemain G tiba-tiba mengeluarkan sekarung uang. "Nih,buat lu. Yang penting jgn kartu merah ye?" kata pemain G kepada wasit.
Wasit berkata, "Ooo,tidak bisssa!"
Pemain G berkata lagi, "Eh,lu gak tau gue siapa? Noh,bos gue ngeliatin lu." katanya sambil menunjuk kearah penonton. Disana berdiri sesosok yang gagah dan rapi, berada di kursi VVIP. Si wasit bergidik ngeri.
"Macem-macem lu?" kata pemain G, menoyor kepala wasit.

Tidak lama kemudian terjadi kericuhan didalam lapangan GBK. Bahkan penonton juga sudah masuk area lapangan. Kericuhan membuat komentator mendatangi lapangan mencari tahu apa yang terjadi.
"Kenapa ini?! Kok malah ricuh?!?"
"Ini lho," kata salah satu penonton yang sudah bercampur baur dengan para pemain yang menggerutu marah. "Pertandingannya ini lho! Aneh! Aneh banget! Pemainnya marah-marah. Soalnya katanya pertandingan ini gak jelas! Mereka pada protes!"
"Oalaaaah..." kata komentator tertawa lebar. "Itu tho. Woy, woy!! Denger nih, denger.."
Hening sejenak. Semua mata tertuju kepada komentator.
"Ngapain ribut-ribut...? Lha wong ini cuman HOAX kok!" kata komentator, lalu dia tertawa terbahak-bahak. (*krik-krik)

Terima kasih bagi yang sudah buang-buang waktunya membacanya,hihiy! ^_^

Sabtu, 15 Januari 2011

nyampah...

Menistakan Harap Pada Penantian Luruh
Kutemukan Sebaris Puisi Dalam Lipatan Keraguan
Sebuah Kabar Penantian
Seuntai Harap Di Resah Jiwa


Kekawatiran Dan Kepasrahan Terungkap
Dalam Setiap Kepasrahan Dihari Kehidupan
Sosok Itu Seperti Cinta Dan Kuasa Kuharap
Tapi Hadir Dalam Sebuah Harap Menanti


Jangan Coba Berpuisi
Aku Tak Pandai Merangkai Kata
Hanya Sebaris Kata Membentuk Nama
Nama Yangkan Terukis Indah Dalam Lubuk Hati
Saat Kutuliskan Isi Hati Janji Kuharapkan

Karena Kut ak Pernah Tau Arti Cinta Dan Kasih Sayang
Karena Yang Ku Tau Selami


Cinta Adalah Perasaan Ingin Memiliki
Kasih Adalah Perasaan Ingin Memberi
Sayang Adalah Perasaan Ingin Melindungi

Bolehkah Aku Mencinta Dengan Segala Kekuranganmu
Bolehkah Aku Mengasih Dengan Sepenuh Hatiku
Bolehkah Aku Menyayang Dengan Segala Kekuatanku

Beratikah Ungkapan Yang Terucap
Adakah Mampu Merasai
Bahwa Keabadian Dan Keindahan Cinta
Senantiasa Murni Dengan Memberi
Penuh Senyum Dan Keikhlasan Bathin
Hingga Dengan Airmata Yang Keluar Dari Bentuk Perjuangan...

Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia


Suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan- Nya. Malaikat pun bertanya, “Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?” “Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama Bumi,” kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon. Tuhan melanjutkan, “Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara seimbang”.



Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa. Di Eropa sebelah utara, Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan seperti Inggris, Skotlandia dan Perancis. Tetapi di daerah itu, Tuhan juga menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang. Di Eropa bagian selatan, Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin, seperti Spanyol dan Portugal, tetapi banyak sinar matahari dan hangat serta pemandangan eksotis di Selat Gibraltar.

Lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan sambil berseru, “Lalu daerah apakah itu Tuhan?” “O, itu,” kata Tuhan, “Itu Indonesia. Negara yang sangat kaya dan sangat cantik di planet bumi. Ada jutaan flora dan fauna yang telah Aku ciptakan di sana. Ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. Banyak sinar matahari dan hujan. Penduduknya Ku ciptakan ramah tamah,suka menolong dan berkebudayaan yang beraneka warna. Mereka pekerja keras, siap hidup sederhana dan bersahaja serta mencintai seni.”

Dengan terheran-heran, malaikat pun protes, “Lho, katanya tadi setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. Kok Indonesia baik-baik semua. Lalu dimana letak keseimbangannya? “

Tuhan pun menjawab, “Wait, until you see the idiots I put in the government.”

 Sumber: Jesse Valentino Yeremia Paath’s Blog.

Senin, 08 November 2010

Jahe sebagai Obat Praktis

Jahe merupakan pereda sakit yang alami dan dapat meredakan nyeri rematik, sakit kepala, dan migrain. Caranya, minum wedang jahe 3 kali sehari. Bisa juga minum wedang ronde, mengulum permen jahe, atau menambahkan jahe saat makan soto, semur, atau rendang. Daun jahe juga berkhasiat, antara lain dengan ditumbuk dan diberi sedikit air dapat dipergunakan sebagai obat kompres pada sakit kepala dan dapat dipercikan ke wajah orang yang sedang menggigil. Sedangkan rimpangnya ditumbuk dan direbus dalam air mendidih selama lebih kurang 1/2 jam, kemudian airnya dapat diminum sebagai obat untuk memperkuat pencernaan makanan dan mengusir gas didalamnya, mengobati hati yang membengkak, batuk dan demam. Untuk mengobati rematik, siapkan 1 atau 2 rimpang jahe. Panaskan rimpang tersebut di atas api atau bara dan kemudian ditumbuk.Tempel tumbukan jahe pada bagian tubuh yang sakit (rematik). Jahe juga dapat digunakan untuk mengobati luka lecet, tertusuk benda tajam, terkena duri, jatuh, serta gigitan ular. Caranya rimpang jahe merah ditumbuk dan ditambahkan sedikit garam. Tempel pada bagian yang terluka. 

SELAMAT MENCOBA! ^_^

Kamis, 14 Oktober 2010

Dubber (AKA Pengisi Suara)

Pastinya Anda sudah tak asing lagi jika mendengar profesi yang satu ini. Berbagai macam film, terutama untuk acara anak-anak yang berasal dari luar negeri, biasanya dilakukan proses dubbing untuk memudahkan penonton yang pastinya anak-anak untuk mengerti jalan cerita. Karena itu kita tak asing dengan suara Doraemon, Spongebob dan kartun lainnya.

Kebisaan seorang dubber salah satunya adalah dengan mengikuti karakter yang ada di sebuah cerita. Cerita ini bisa saja di sebuah film atau hanya dalam cuplikan iklan. Suara menjadi hal yang penting. Terkadang seorang dubber bisa memerankan lebih dari satu peran dalam sebuah film atau iklan. Hal ini tergantung pada karakter peran yang harus ia pegang.

Proses dubbing juga bisa dikatakan lumayan mudah, meski tentunya ada beberapa hambatan yang bisa dihadapi oleh dubber. Untuk proses dubbing ke sebuah film, biasanya dubber akan diberikan script cerita dan kalimat yang harus dikatakannya selama film berlangsung. Sebelum film diputar (untuk menyamakan kalimat tiap peran), juga ada pengarah film yang akan mengarahkan kapan dan bagaimana seorang dubber harus melakukan tugasnya. Improvisasi menjadi hal yang cukup penting dalam melakukan pekerjaan ini. Sulitnya adalah bagaimana seorang dubber berakting tanpa harus melakukan sesuatu. Suaranya justru yang harus "berakting". Karena itu, improvisasi memang perlu dilakukan. Apalagi kalau ia harus memainkan dua peran yang berbeda. Misalnya saja, satu peran sebagai seorang ibu, ia harus pandai-pandai merendahkan suara dan memasukkan karakter yang diinginkan.

Hal rumit yang juga bisa dihadapi seorang dubber adalah mengikuti keinginan klien. Misalnya saja suara yang dikeluarkan bisa saja dianggap kurang berkarakter atau kurang mengikuti keinginan klien. Nah, untuk menyamakan keinginan dan kemampuan itulah yang menjadi salah satu kesulitan yang mungkin bisa dihadapi seorang dubber. Dubber pun harus bisa sabar dan tanggap dengan keinginan tersebut.

Namun, nilai tambah dari seorang dubber juga tak kalah banyak. Selain pekerjaan ini tak membutuhkan waktu yang banyak. Seorang dubber bisa saja dalam sehari mengerjakan dua atau tiga proyek, aplagi kalau itu untuk mengerjakan iklan.

Kalau bicara bagaimana menjadi seorang dubber, Anda bisa memulainya dengan mengiukt beberapa kursus untuk menjadi dubber, misalnya saja di Sanggar Prativi. Di sanggar-sanggar atau studio biasanya mereka tak hanya melatih Anda dalam jangka waktu 3-6 bulan, namun juga biasanya Anda akan diikutsertakan dalam penggarapan dubbing. Dari situ, Anda akan mendapatkan contoh suara yang bisa Anda kirim-kirimkan ke studio-studio iklan. Ini penting agar studio iklan mempunyai contoh suara jika misalnya saja ada pengiklan membutuhkan suara dengan karakter tertentu yang bisa saja cocok dengan suara Anda, Anda tentunya akan dipanggil. Nah, di sini Anda bisa saja harus melewati proses casting atau malah tidak sama sekali.

Salah satu kelebihan profesi ini juga tidak adanya keharusan latar belakang pendidikan. Karena dari manapun latar belakang pendidikan ini tak menjadi masalah, yang penting adalah justru modal suara Anda. Apakah suara Anda cukup "menjual"? Misalnya saja Anda punya suara yang punya karakter tersendiri, dan Anda punya keinginan untuk menjadi seorang dubber. Karena itu juga tak heran kalau seorang penyiar radio pun banyak yang juga menjadi seorang dubber.

Selain itu, karena tak memakan banyak waktu, seorang dubber bisa mengatur waktu sesuka hati. Karena itu juga seorang pekerjaan ini bisa menjadi pilihan buat orang yang tak ingin terikat waktu oleh pekerjaan. Anda bisa menjadi freelancer jika memilih pekerjaan ini, sehingga Anda pun punya banyak waktu luang.

dari Asteria Arlita
Sumber: CBN


DO'A


Wahai Dzat yang memiliki hati ini...
kau jadikan malam ini demi cintaMU pada kami
dan demi apakah bulan itu...
dia bersinar terang benderang
seumpama mentari di siang hari
dan demi apakah langit itu...
terbentang bersih, sebersih tenun kain beludru
berhias awan seputih kapas setipis serat
mereka seakan membawa kabar lama yang terlupakan
tentang keMaha PerkasaanMu...
semua sudut pandang seakan mendekat...melekat
dan apa ini, gelombang ketakutan yang serentak menyerangku?
sesuatu yang tak kumengerti
Benderangnya langitMu malam ini
membuat hamba takut terhimpit rembulan yang jatuh
karena tak ada lagi awan tempatnya bersandar
atau takut kejatuhan malaikat
karena polosnya langit malam
atau ketakutanku...
bahwa aku takut melihat DzatMu
yang Kau siratkan pada bentangan langit malam ini

Aku takut membayangkan kelak harus berhadapan langsung denganMu
dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dariMu
tentang segala yang aku perbuat di bumiMu
aku tak sanggup membayangkan mendapat tamparan
dari rasa kecewaMu untukku..
tak sanggup pula membayangkan amarahMu
tak sanggup membayangkan akan dibawa ke tempat akhir
yang juga akan jauh dari kasih sayangMu...

Rabbana...
banyak hal yang belum hamba tunaikan
masih banyak yang harus hamba tuntaskan
Rabbana...
Dzat yang mengurus, mengatur, mengajari, dan memeliharaku
izinkanlah aku menuntaskan semua yang telah aku mulai
beri aku kekuatan untuk menunaikan yang Kau ingin aku tunaikan
limpahkan selalu padaku rahmat, kasih sayang, dan bimbinganMu
juga kepada keluargaku, dan orang-orang yang menyayangiku...

AKU dan CINTA

Tiap jiwa adalah berharga, aku baru mempelajarinya setelah umurku 20 tahun. Yang harusnya kulakukan 3 atau 4 tahun sebelumnya, agar aku tak dihantui penyesalan seperti sekarang ini. Perpisahan. Dalam hidupku banyak sekali kutemui kata perpisahan. Kata yang sejujurnya, dan sudah seharusnya, kubenci dan menghindarinya, tapi aku malah mulai terbiasa dengannya…sejak kepergian ayah tiga tahun yang lalu. Kepergian ayah sesungguhnya menorehkan luka yang teramat dalam dihati, tapi anehnya luka itu tidak terasa sakitnya saat itu terjadi tiga tahun yang lalu. Tiga tahun yang lalu yang aku tahu salah satu makhluk Tuhan diambil kembali oleh Tuannya, dan dia pergi hanya berpindah tempat (alam). Tanpa kusadari luka itu bersemayam didasar hati. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, luka itu semakin dalam hingga kini seakan berdarah. Tahun-tahun belakangan ini aku baru menyadari keberadaan luka itu, bersamaan dengan kusadari bahwa takkan ada lagi suara sapaan ayah ketika kurindu..takkan ada lagi canda tawa antara kami saat ku sedih..takkan ada lagi kata-kata bijaknya saat kubutuh. Aku pernah membaca sebuah kalimat “luka itu tetap akan menganga, kau tidak pernah menjahitnya”. Seperti keadaanku.
Luka hati itu semakin bertambah parah dengan ketidakadaannya sosok ibu yang kubutuhkan disampingku. Dan saat berumur 20 tahun aku patah hati. Lelaki yang menyayangiku ku abaikan hanya demi lelaki yang kusukai yang, pada kenyataannya aku tahu, tidak sungguh-sungguh menyayangiku. Di umur 20 tahun aku belajar banyak hal. Di umur 20 aku menyadari bahwa satu-satunya pria yang sungguh-sungguh mencintai dan menyayangiku sepenuh hati di dunia ini hanyalah ayah, dan tidak akan ada yang bisa menyamainya untuk menyayangiku. Walaupun aku dan ayah sangat jarang bertemu. Dia harus banting tulang di negeri orang…untukku. Untuk kelangsungan hidupku. Setidaknya itulah yang kupikirkan tentang ayah. Apa lagi bakti seorang anak kepada ayahnya yang sudah meninggal selain mendoakannya dan berpikir dan berkata yang baik tentangnya? Begitupun dengan ibu.
Ayah bilang ibu pergi meninggalkan kami saat umurku baru mencapai 7 bulan. Katanya dia pergi begitu saja. Dan sama sekali belum ada konfirmasi lagi dari ayah tentang alasan kepergian ibu bahkan sampai ayah meninggal. Tapi dia adalah ibuku, wanita yang mengandung aku selama 9 bulan dengan segala rasa sakit dan lelahnya, dia juga yang melahirkan aku dengan perngorbanan darah bahkan nyawanya. Maka aku sebagai anak sudah mesti wajib berbakti juga kepadanya. Apapun yang terjadi saat aku berumur 7 bulan, apapun yang dipikirkan orang tentang ibuku, dan apapun yang ibuku pikirkan tentang aku dimanapun dia berada sekarang, aku akan berpikir dan berkata yang baik tentangnya. Apa lagi bakti anak kepada ibunya yang tidak ada didekatnya selain dengan mendoakannya dan berpikir dan berkata yang baik tentangnya?
Ayah itu adalah anak pertama dari 9 bersaudara. Dia memiliki 2 adik laki-laki dan 6 adik perempuan. Mereka semua menjagaku, memastikan aku tidak kekurangan makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dsb. Mereka semua berkata padaku bahwa mereka menyayangiku layaknya anak mereka sendiri. Aku menghargai mereka, dan semua limpahan perhatian mereka yang sengaja mereka bagi padaku. Tapi ketika aku melihat salah satu bibiku bercengkrama dengan mesranya bersama anak perempuannya, aku mulai berpikir, bahwa kata “menyayangi” saat mereka berkata akan menyayangiku seperti anak mereka sendiri akan lebih tepat jika diganti dengan kata “menjaga”. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan dan tersenyum melihat mereka memeluk dan menciumi anak-anak mereka sementara anak-anak mereka tertawa bahagia dalam pelukan ibunya. Aku hanya bisa memalingkan pandanganku ketika melihat mereka memeluk dan mengusap airmata anak mereka ketika anak-anak mereka menangis karena sesuatu. Karena aku tidak akan tahan untuk tidak menangis jika tidak kupalingkan wajahku. Sementara jika ku biarkan diriku menangis hanya karena itu, siapa yang akan mengusap airmataku? Menjadi tahan banting, tebal muka, tidak berperasaan, tidak boleh terlalu menyayangi sesuatu/seseorang, tidak berharap, hanya menerima. Itu yang kupelajari begitu usiaku mencapai 20 tahun. Dan aku pikir itulah yang paling benar. Aku pikir itulah yang Tuhanku mau aku pelajari setelah semua yang Dia timpakan padaku.

Dalam beberapa hal, banyak hal, mungkin aku belum tahu pasti. Tapi untuk sebagian lagi yang sudah kumengerti aku tahu aku telah salah. Perihal dicintai dan mencintai bagiku adalah perihal besar dalam hidupku. Dimana hampir sebagian orang tidak kekurangan dalam hal itu, dan aku merasa aku sangat kekurangan. Disitulah letak kesalahanku. Aku merasa kekurangan karena aku hanya mencari yang tidak ada disekitarku, dan meniadakan cinta disekitarku. Tidak ada orang baik dan orang jahat. Semua manusia bisa baik dan jahat kapan saja dimana saja. Yang ada hanya prasangka kita pada sekitar kita. Prasangka baik akan membawa semua yang negatif menjadi positif. Prasangka buruk akan membawa semua yang positif menjadi negatif. Ayah ‘pernah’ menyayangiku dengan sepenuh hatinya, tapi cintanya hanya untuk Tuhannya. Itu sebabnya Tuhan begitu menyayanginya dan menjaganya. Ibu, sesuatu yang masih misteri dalam hidupku. Bahkan begitu usiaku beranjak 21. Tapi aku meyakinkan diriku bahwa kasih sayanglah yang membuat ibu bertahan selama 9 bulan mengandung aku diperutnya, dan akhirnya melahirkan aku kedunia. Apa lagi yang bisa membuat seseorang rela mengorbankan berliter-liter darah untuk melahirkan seorang manusia di dunia, bahkan nyawanyapun sudah siap ia korbankan saat itu, selain kasih sayang?
Para paman dan bibiku. Aku tahu seharusnya tidak mengukur-ukur sedalam apa kasih sayang mereka padaku. Bagaimanapun, aku juga tidak akan rela melihat ibu yang melahirkan aku lebih berkasih sayang kepada orang yang tidak dia lahirkan dari perutnya sendiri. Sudah seharusnya aku lebih memikirkan perasaan anak-anak mereka ketimbang perasaan mereka kepadaku. Masalah mereka menyayangiku atau hanya menjagaku, tidak akan ada penjagaan jika tidak dikasihi dan disayangi. Yang mereka tahu mereka menyayangi aku seperti anak mereka sendiri. Mereka tidak tahu menahu tentang bagaimana cara menyayangi yang aku inginkan, dan itu bukan salah mereka. Dan faktanya, apa yang aku inginkan memang tidak selalu kudapatkan dari mereka, tapi aku selalu mendapatkan yang aku butuhkan. Tuhan mengurusku melalui tangan-tangan mulia mereka. Dan selama ini aku buta akan semua hal kecil itu, dan menghabiskan waktuku untuk mencari dan menangisi yang tidak ada. Teman-teman disekitarku. Aku merasa mereka beruntung memiliki keluarga yang lengkap, sementara akulah, hanya akulah, yang patut dikasihani Tuhan hanya karena aku ditinggal pergi ibuku, dan ayahku tidak ada lagi di dunia. Hm, rasanya aku ingin menertawai diriku sendiri. Pantaslah jika seseorang menyebutku cengeng jika aku terus begini. Tapi untungnya selama ini tidak pernah ada yang menyebutku seperti itu. Mana aku tahu mereka bahagia atau tidak dengan lengkapnya keluarga mereka. Ternyata kebahagiaan tidak bisa diukur dengan lengkap atau tidaknya sebuah keluarga, tapi berapa besar kesyukuran kita terhadap apa yang sudah diberikan Tuhan kepada kita, dan apa-apa yang sudah Dia percayakan kepada kita. Adapun kelengkapan keluarga, kekayaan, dan semacamnya hanyalah pelengkap. Atau malah menjadi ujian dari Tuhan untuk menguji apakah kita bisa bertanggung jawab dengan yang kita miliki atau tidak. Tuhan pernah mempercayakan seorang ayah yang baik kepadaku, tapi aku tidak benar-benar berbakti kepadanya. Aku tidak bertanggung jawab atasnya, makanya Tuhan mengambilnya kembali. Itu adalah teguran untukku agar lain kali aku lebih berhati-hati. Tapi aku kembali mengulangi kesalahan itu terhadap nenekku. Aku kurang berbakti padanya hingga Tuhan kembali mengambilnya. Sekarang bagaimana aku memaafkan diriku? Setelah menyadari itu semua, aku melihat sekelilingku. Banyak sekali kasih sayang yang Tuhan percayakan padaku. Jika aku terus menutup hatiku untuk yang telah pergi atau yang tidak sedang didekatku, aku akan kembali mengulangi kesalahanku. Aku bertanya, bagaimana jika Tuhan kembali mengambil mereka. Apakah aku akan sanggup memaafkan diriku? Kurasa tidak. Bagaimana akan kupertanggung jawabkan diriku kepada Tuhanku nanti? Aku menatap lekat-lekat pantulan diriku di cermin, aku berkata kepada diriku sendiri, “ayo, jadi diri sendiri. Hanya dengan begitu kau akan nyaman menjalani semuanya. Jika nyaman, kau tidak akan mendzolimi dirimu sendiri, dan orang-orang disekitarmu.” Di usaiku yang ke 21 aku belajar untuk lebih banyak bersyukur. Masih banyak yang perlu aku benahi, termasuk kemampuanku untuk bersyukur.

Sedikit cerita tentang orang-orang yang menjadi inspirasi dalam hidupku. Dimulai dari laki-laki. Laki-laki yang pertama adalah ayah. Dia selalu bisa melihat segala peristiwa dengan rasa syukur. Caranya melihat semua kejadian sangat berbeda. Hal-hal yang menurutku buruk dan negatif, dimatanya akan tetap baik dan positif. Aku tidak tahu bagaimana dia melakukannya, seakan tidak pernah ada hal buruk menimpanya. Aku tidak tahu bagaimana dia dimata adik-adiknya atau teman-temannya, tapi itulah ayahku yang aku tahu, dan aku tidak perlu tahu seperti apa dia dimata orang lain. Laki-laki kedua adalah…orang itu. Dia tidak begitu peduli apa yang terjadi disekitarnya, yang dia pedulikan hanyalah tetap menjadi baik untuk orang-orang dan berbuat baik kepada Tuhannya. Dia sudah begitu tenang dengan usianya yang tidak beda jauh denganku. Bagaimana dia bisa sefokus itu pada usia segitu, aku masih tidak mengerti. Mungkin aku yang terlalu labil. Perempuan. Perempuan pertama yang menjadi inspirasi dalam hidupku adalah bibiku yang ketiga. Dia sangat berserah diri pada Penciptanya. Benar-benar berserah diri apapun yang akan menimpanya. Karena sifatnya itu, tiap kali ada kebohongan kecil atau besar sampai kepadanya, akan terbongkar dengan sendirinya. Yang aku lihat, Tuhan yang membukakan untuknya tiap tirai kebohongan itu, karena dia menelan bulat-bulat yang datang padanya dan mempercayakannya kepada Tuhan untuk memastikan kebenarannya. Tuhan pastinya terlalu Mahaberkuasa untuk tidak menyibakkan sedikit dari kebohongan dunia itu. Aku ingin seperti dia dimata Tuhanku. Perempuan kedua adalah bibiku yang kelima. Dia bertemu jodohnya jauh sebelum tahu itu jodohnya. Ia melepasnya dan mempercayakan jodohnya kepada Tuhan padahal ia sangat menyukai orang itu. Yang akhirnya menjadi jodohnya. Aku ingin kisah cintaku seperti dia. Sekarang dia sudah memiliki seorang anak laki-laki dan suaminya sangat menyayanginya. Keluarga besan pun sangat menyayanginya karena sifatnya yang penurut dan tidak pernah mengeluh didepan besannya apapun yang terjadi. Aku ingin kehidupan rumah tanggaku nanti seperti dia. Terakhir adalah bibiku yang paling bungsu. Dia pernah melakukan kesalahan dimasa mudanya. Tapi dia bisa memaafkan dirinya dan melanjutkan mencintai sekitarnya. Menurutku, hanya orang berjiwa sangat tangguhlah yang bisa memaafkan kesalahan diri sendiri. Bibiku yang tertua juga sangat membanggakan. Dia kuat bagaikan batu karang, tak goyah diterjang ombak. Aku ingin memiliki mental baja seperti yang dimilikinya. Dia seperti sarang lebah. Jika didekatnya mungkin kau hanya akan merasakan sakitnya disengat lebah, tapi jika sudah jauh kau bisa membeli madu yang manis dan menyehatkan dimanapun kau berada. Bibiku yang kedua orangnya sangat lembut dan tidak pernah berbuat atau berkata buruk kepada orang. Yang aku pelajari darinya adalah berbuat baiklah kepada orang didepan maupun dibelakangnya. Dan bibiku yang keempat sangat suka memanjakanku. Kadang aku merasa lebih nyaman didekatnya. Yang aku pelajari darinya adalah, percaya kepada hati nurani, bukan omongan orang. Aku tipikal orang yang mudah terpengaruh, aku harus banyak belajar darinya. Dia memiliki kesabaran yang cukup teruji.
Lihat, mataku baru mulai terbuka saat umurku bukan lagi 20. Mungkin aku lambat belajar, sehingga Tuhan harus melatihku lagi dan lagi hingga aku mengerti sendiri. Yang terpenting sekarang adalah banyak berterima kasih kepada siapa saja yang berbuat baik padaku, tanpa memikirkan lagi apa maksud mereka dibalik semuanya. Karena aku ingin seperti bibiku yang selalu menyerahkan keselamatan dirinya dan hatinya kepada Tuhannya. Dan juga, membalas budi baik mereka dengan cara yang mampu aku lakukan. Berbuat baik dan berpikir yang baik-baik saja. Karena aku cenderung memikirkan keburukan-keburukan sebelum tahu pasti itu baik atau buruk, dan itu sangat melelahkan. Aku tidak bisa langsung pandai dalam hal ini tapi aku akan melatih diriku. Inti dari semuanya, aku harus tetap berprasangka baik pada Tuhanku. Karena Tuhanku berkata : “Aku tergantung prasangka hamba-Ku.” Tidak ada yang Dia berikan kepadaku kecuali berguna untukku dan mengandung kasih sayangNya. Itu semua yang kupelajari hingga umurku mencapai 21. Saat itu, usia 22, 23, 24 dan seterusnya adalah masih misteri untukku. Termasuk tentang dia, ibuku.